Senin, 20 Juli 2020

SEJARAH DATU KARTAMINA

KISAH DATU KARTAMINA

Pada abad ke-14 di Kecamatan Kalua, Kabupaten Tabalong hidup seorang Datu yang bernama Kartamina. Menurut sahibul hikayat beliau berasal dari keturunan Raja Gagalang Kelua. Beliau mempunyai watak pemberani dan agak liar. Kebiasaan beliau adalah suka merendam kaki ke air.
Datu Kartamina mempunyak kesaktian bisa menciptakan buaya dengan merubah batang korek api menjadi buaya. Korek api itu beliau ambil sebatang dan diletakkan di telapak tangan kanan sambil mulut komat-kamit membaca mantra :
Oh, Gusti di alam hening
Hamba bermohon dengan bening
Ubahlah bilah ini menjadi buaya kuning
Bernyawa
Berenang-renang
Menjaga keamanan
Selanjutnya beliau pejamkan mata beberapa lama sementara mulut terus berkomat-kamit, maka batang korek api itupun berubah menjadi buaya, mula-mula kecil seperti cecak kemudian akan menjadi besar apabila dimasukan ke dalam sungai
Selain itu Datu Kartamina bisa mengubah diri menjadi buaya kuning. Kalau sudah menjadi buaya, beliau berdiam didasar sungai dan sesekali timbul ke permukaan sungai. Kalau buaya itu timbul di permukaan sungai orang-orang yang melihatnya akan merasa ketakutan karena bentuknya tidak seperti buaya kebanyakan, bentuk buaya kuning ini besar seperti pohon aren (enau) sangat menyeramkan. Jika beliau ingin kembali menjadi manusia, kelihatanlah air sungai beriak-beriak dan berbuih tebal, kemudian muncul buaya kuning dipermukaan sungai dan terus naik ke darat kemudian buaya kuning itu lambat laun berubah kembali menjadi manusia seperti sedia kala.
Datu Kartamina bersahabat dengan Raja dari Kerajaan Negara Dipa, Amuntai. Karena saking akrabnya mereka sering bertemu dan bercengkrama, terkadang Datu Kartamina datang ke Amuntai untuk bertemu dan terkadang Raja Negara Dipa yang datang ke Kalua.
Suatu hari sang raja datang berkunjung ke Kelua untuk melepas rindu pada sahabatnya Datu Kartamina karena lebih kurang dua bulan tidak bertemu, setelah tiba dirumah Datu Kartamina, sang raja mengetuk pintu rumahnya, namun stelah diketuk beberapa kali tetap tidak ada jawaban maka sang raja bertanya kepada tetangga disebelah rumah Datu Kartamina. Oleh tetangga di sebelah rumah beliau berkata bahwa tadi beliau sedang berada di sungai.
Sang Raja berjalan menuju ke sungai sebagaimana yang telah dikatakan oleh tetangga Datu Kartamina namun tidak menemukannya. Lalu sang raja berteriak-teriak memanggil sahabatnya tersebut dari pinggir sungai. “Kartamina …! Kartamina … ! dimana kau ? aku sahabatmu ingin bertemu” kata sang raja.
Setelah beberapa kali berteriak memanggil, tak lama kemudian air disungai dihadapan sang raja menjadi beriak-riak dan berbuih tebal, kemudian muncullah buaya kuning yang menyeramkan sebesar pohon enau. Melihat pemandangan yang ada di hadapannya sang raja terkejut dan takut yang luar biasa.
Sebelumnya Datu Kartamina tidak bercerita kepada sahabatnya bahwa beliau pandai menjelma menjadi Buaya Kuning, belum lagi hilang rasa terkejut dan rasa takut, sang raja dikejutkan lagi dengan terdengarnya suara dari buaya terbut yang menyebut namanya.
“Jangan takut sahabatku, akulah Kartamina yang kau cari” kata buaya itu. Setelah naik ke darat berubahlah buaya kuning itu menjadi Datu Kartamina yang asli. Sejak kejadian itu sang raja semakin senang bersahabat dan bergaul dengan Datu Kartamina sang raja pun sangat menghormati Datu Kartamina

Kenapa di Kalua disambat Padang Buaya
           Menurut kepercayaan orang bahari dan sampai wahini pun bahwa di kalua ada kerajaan besar para buhaya mahluk halus yang dipimpin oleh Raja Datu Abi atau Raju Datu Banyu yang ada dialam sana alam sebelah kita, yang kada kawa kita lihat dengan mata telanjang biasa, mungkin hanya orang hawas yang memiliki ilmu gaib haja nang kawa malihat dan mengetahuinya keberadaannya, memang sebagian  orang di kalua datu nini bahari bagaduhan buhaya jadi-jadian, tapi bukan berarti sabarataan orang dikalua nang bagaduhan nya. Menurut dadangaran kisah, apabila sang ampunnya ada acara besar atau hajatan besar seperti kawinan dll, maka buaya tadi harus di barimakani (diberi sesajen) dengan melabuh saurang kasungai, yang penulis tahu salah satu sesajennya hintalo dan lakatan masak, misalnya kada ingat mambarimakani, maka ujar orang gaduhan buaya ngintu tadi bisa mamingit anak cucu yang manggaduhnya.
           Sedikit kisah penulis ceritakan waktu penulis masih halus dahulu sekitar tahun 1990an. waktu itu ada pengantinan di sebuah kampung kecil yang terletak di kota Kelua. pada waktu malam acara pengantenan nya (malam minggu) ,awalnya acara persiapan pengantenannya berjalan lancar aja. tidak beberapa lama kemudian suasana menjadi ribut, gaduh dan orang banyak bukahan kaluaran rumah dari rumah pangantin bibini nya, penulis pun jadi  panasaran ae kanapa maka orang bukahan kaluar, ngaran kakanakan dahulu, tingkat panasarannya masih tinggi, lalu bawani masuki kadalam rumah pangantin babiniannya, tarnyata pangantin babiniannya kasurupan buhaya, pangantinnya tadi bakakat dilantai nang kaya buhaya tupang lagi dah. Limbah malihat ngintu kadanya takutan malah handak manjanaki pangantinnya kasurupan, jaka kada orang orang tuha disitu manyariki  manyuruh kaluar, kada kaluar tupang balantak disitu malihat. telusur demi telusur ternyata pihak nang kaluarga yang bepangantinan tdi ada bagaduhan buhaya halus ngintu, dan mungkin kada ingat membari makani. kada tahu pasti jua pang kanapa maka kajadian ngintu sampai bisa terjadi.
           Manurut kisah apabila sudah begaduhan maka akan diturunkan tarus manarus manggaduhnya ka anak lalakian selanjutnya turun temurun. Jadi ngintu tupang paninggalan orang Kelua bahari, nang sampai wahini masih ada keberadaannya di tengah masyarakat Kelua, dan nang maulah kalua manjadi disambat orang lawan banua buhaya.Keberadaan alam sebelah kada kawa dipungkiri adanya, dan kita wajib mempercayainya, karena itu sudah ditulis dalam Kitab Suci Al-Qur'an bahwa Tuhan menciptakan mahluknya dalam bermacam-macam jenis dan golongan, sekarang tinggal kita haja menyikapinya secara bijak,,,,

Kerajaan Nan Sarunai

Sejarah Kerajaan Jejak Panjang Nan Sarunai, Kerajaan Purba di Kalimantan Reporter: Iswara N Raditya 09 Januari 2018 Kerajaan Nan Sarunai di Kalimantan Selatan disebut-sebut sudah berdiri sejak zaman prasejarah dan bertahan selama ribuan tahun sebelum ditaklukkan Majapahit. tirto.id - Di bumi Borneo, Kerajaan Kutai Martadipura muncul pada abad ke-4 Masehi dan selama ini diyakini sebagai kerajaan tertua di Nusantara. Namun, jauh sebelumnya, di belahan lain Pulau Kalimantan, ada kerajaan yang ternyata jauh lebih tua. Namanya Kerajaan Nan Sarunai yang diperkirakan sudah berdiri sedari zaman purba alias prasejarah. Nan Sarunai didirikan orang-orang Dayak Maanyan, salah satu sub suku Dayak tertua di Nusantara, khususnya di Kalimantan bagian tengah dan selatan. Apakah Nan Sarunai sudah layak disebut kerajaan atau belum memang masih menjadi perdebatan. Namun, yang jelas, pemerintahan di Nan Sarunai berlangsung sangat lama. Eksistensi Kerajaan Nan Sarunai baru berakhir setelah datang pasukan Majapahit dari Jawa pada pertengahan abad ke-14 M. Nan Sarunai diruntuhkan, orang-orang Dayak Maanyan tercerai-berai. Namun, nantinya kerajaan ini menjadi embrio terbentuknya entitas masyarakat Kalimantan Selatan, cikal-bakal Kesultanan Banjar. Melacak Nan Sarunai Nan Sarunai diyakini berada di Amuntai, daerah yang terletak di pertemuan Sungai Negara, Sungai Tabalong, dan Sungai Balangan yang bemuara di Laut Jawa. Daerah itu berjarak sekira 190 kilometer dari Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan sekarang. Salah satu jejak arkeologis yang digunakan untuk melacak keberadaan Nan Sarunai adalah ditemukannya bangunan candi kuno di Amuntai. Candi ini dikenal dengan nama Candi Agung, yang dipercaya menjadi salah satu simbol eksisnya peradaban orang-orang Dayak Maanyan di masa silam. Baca juga: Ali Anyang, Putra Dayak Penegak NKRI Penelitian Vida Pervaya Rusianti Kusmartono dan Harry Widianto berjudul “Ekskavasi Situs Candi Agung Kabupaten North Upper Coarse, South Kalimantan” yang dimuat dalam jurnal Berita Penelitan Arkeologi edisi Februari 1998 menyebutkan, pengujian terhadap candi tersebut telah dilakukan pada 1996. Hasilnya mengejutkan. Pengujian terhadap sampel arang candi yang ditemukan di Amuntai itu menghasilkan kisaran angka tahun antara 242 hingga 226 Sebelum Masehi (hlm. 19-20). Apabila benar demikian, maka Kerajaan Nan Sarunai jauh lebih tua dari Kerajaan Kutai Martadipura yang berdiri pada abad ke-4 Masehi. Dalam perkembangannya, Nan Sarunai dikenal pula dengan beberapa nama lain, seperti Kuripan, Tabalong, hingga Tanjungpuri. Khusus Tanjungpuri, ada perbedaan pendapat di kalangan peneliti bahwa nama ini bukanlah kerajaan yang sama dengan Nan Sarunai. Menurut Suriansyah Ideham dkk., dalam Urang Banjar dan Kebudayaannya (2007), Tanjungpuri diyakini didirikan orang-orang Melayu Sumatera yang merupakan pelarian dari Kerajaan Sriwijaya (hlm. 17). Tanjungpuri dan Nan Sarunai diyakini dua entitas berbeda, tapi pernah berada dalam lingkup ruang dan waktu yang berdekatan. Keduanya sama-sama menempatkan pusat pemerintahannya di tepi anak Sungai Barito, termasuk Sungai Tabalong. Baca juga: Melayu, Islam, dan Politisasi Pribumi ala Kolonial Kedatangan orang-orang Melayu dari Sumatera ke Borneo itu diperkirakan terjadi pada awal abad ke-11 M, menjelang keruntuhan Kerajaan Sriwijaya. Sebagian pelarian itu lalu mendirikan komunitas yang kemudian berkembang menjadi suatu pemerintahan serta hidup berdampingan dengan orang-orang Dayak Maanyan yang bernaung di bawah Kerajaan Nan Sarunai. Alfani Daud dalam Islam dan Masyarakat Banjar: Deskripsi dan Analisis Kebudayaan Banjar (1997) mendukung kemungkinan tersebut. Menurutnya, penduduk sebagian wilayah Kalimantan Selatan berintikan orang-orang asal Sumatera, tepatnya Palembang, yang membangun tanah baru di kawasan ini dan kemudian bercampur dengan orang-orang Dayak Maanyan (hlm. 44). Leluhur Kalimantan Selatan Salah satu rujukan lain untuk menelisik eksistensi Kerajaan Nan Sarunai adalah Hikayat Banjar. Jejak peradaban lama di Nusantara memang kerap dilacak melalui historiografi tradisional, seperti hikayat atau babad. Historiografi tradisional, menurut Sartono Kartodirdjo dalam Historiografi Tradisional, Model, Fungsi, dan Strukturnya (1993), punya ciri-ciri menonjol dan saling berkaitan, yaitu etnosentrisme, rajasentrisme, dan antroposentrisme (hlm. 7). Johannes Jacobus Ras dalam Hikayat Bandjar: A Study in Malay Historiography (1968) membagi Hikayat Banjar dalam dua ragam, yakni versi Kerajaan Negara Dipa yang beragama Hindu dan versi yang disusun pada era Kesultanan Banjar yang telah memeluk Islam (hlm. 238). Nan Sarunai adalah pemula dari dua kerajaan yang kemudian membentuk entitas orang-orang Kalimantan Selatan itu. Hanya saja, Hikayat Banjar, yang ditulis sepanjang 4.787 baris atau 120 halaman, tidak terlalu banyak mengulik tentang Kerajaan Nan Sarunai. Pembahasan terutama pada masa menjelang keruntuhannya. Baca juga: Kerajaan Kristen Pertama di Nusantara, Larantuka Bab terkait Nan Sarunai dalam Hikayat Banjar menyerupai tradisi lisan, yakni nyanyian (wadian) yang ditransmisikan secara turun temurun. Dalam Struktur Birokrasi dan Sirkulasi Elite di Kerajaan Banjar pada Abad XIX (1994), M.Z. Arifin Anis menegaskan, Tradisi lisan Dayak Maanyan ini membawa kisah jika mereka sudah memiliki “negara suku” bernama Nan Sarunai Boleh jadi istilah “negara suku” lebih tepat untuk menyebut tata pemerintahan di Nan Sarunai daripada istilah "kerajaan", karena keberadaan peradaban orang-orang Dayak Maanyan ini terkesan “tidak diakui” sebagai kerajaan tertua di Nusantara. Bangkit dan Runtuhnya Nan Sarunai Alfani Daud (1997) memperkirakan bahwa terbentuknya pemerintahan Nan Sarunai pada masa prasejarah bermula dari bergabungnya beberapa komunitas adat Dayak Maanyan yang dipersatukan dalam suatu pusat kekuasaan yang lebih luas (hlm. 2). Hal ini didukung oleh Suriansyah Ideham dkk., (2003) yang menyebutkan bahwa ketika penataan organisasi dalam pemerintahan gabungan itu bisa dijalankan—meskipun masih sangat sederhana—terbentuklah sebuah negara suku yang dikenal sebagai Kerajaan Nan Sarunai. Ditilik dari waktunya, pengelolaan “negara” di Nan Sarunai pada masa awal masih sangat sederhana, sehingga struktur pemerintahnya pun agak sulit ditemukan. Kekuasaan tertinggi sebagai kepala suku maupun kepala pemerintahan berada di tangan seorang “raja” yang memiliki kewenangan untuk mewariskan kekuasaannya (hlm. 16-17). Baca juga: Salakanagara, Kerajaan Sunda Tertua Kendati begitu, eksistensi Nan Sarunai sebagai “negara suku” atau “kerajaan tradisional” mampu bertahan hingga ribuan tahun. Nan Sarunai dianggap sudah tidak lagi menganut konsep pemerintahan “primitif” pada awal abad ke-12 M saat dipimpin raja bernama Raden Japutra Layar yang bertakhta sejak 1309. Sepeninggal Raden Japutra Layar, roda pemerintahan di Kerajaan Nan Sarunai secara berturut-turut dilanjutkan oleh Raden Neno (1329-1349) kemudian Raden Anyan (1349-1358). Raden Anyan yang menyandang gelar Datu Tatuyan Wulau Miharaja Papangkat Amas disebut-sebut sebagai raja terakhir Nan Sarunai. Keruntuhan Kerajaan Nan Sarunai mulai terjadi pada masa-masa akhir pemerintahan Raden Anyan. Riset Sutopo Urip Bae yang dirujuk Abdul Rachman Patji dalam Etnisitas & Pandangan Hidup Komunitas Sukubangsa di Indonesia: Bunga Rampai Kedua Studi Etnisitas di Sulawesi Tengah dan Kalimantan Selatan (2010) menyebut bahwa kerajaan ini pernah diserang Majapahit pada 1358 (hlm. 58). Baca juga: Kejamnya Sultan Samudera Pasai dan Serbuan Majapahit Atas perintah Hayam Wuruk, pasukan Majapahit pimpinan Empu Jatmika menyerang Nan Sarunai hingga takluk. Oleh para seniman lokal, tragedi runtuhnya Nan Sarunai ini diungkapkan dalam puisi ratapan atau wadian dalam bahasa Maanyan yang disebut peristiwa “Usak Jawa” atau “Penyerangan oleh Kerajaan Jawa” (Fridolin Ukur, Tanya Jawab Tentang Suku Dayak, 1977: 46). Kemudian, Empu Jatmika membangun kerajaan baru bernama Negara Dipa yang bernaung di bawah kekuasaan Majapahit dan menganut agama Hindu. Nantinya, Negara Dipa pun menuai keruntuhan dan pada akhirnya, sejak 1520, digantikan Kesultanan Banjar yang sudah memeluk Islam. Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya (tirto.id - isw/ivn) Reporter: Iswara N Raditya Penulis: Iswara N Raditya Editor: Ivan Aulia Ahsan   Subscribe for updates Peradaban Nan Sarunai merupakan cikal-bakal berdirinya Kesultanan Banjar. Berita Menarik Lainnya Serang Fotografer Jenazah Corona: Buruknya Perspektif Anji & Satgas Bobroknya Omnibus Law: Kepentingan Parpol di atas Tuntutan Rakyat Bagaimana Seorang Penyair Mengenal Sapardi dan Keranjingan Berpuisi Siasat Sop Ayam Pak Min & Gudeg Yu Djum Jogja Bertahan saat Pandemi Azwar Ditangkap karena Tembakau Gayo, Diminta Rp15 Juta agar Bebas Rencana Pembubaran 18 Lembaga ala Jokowi Jangan Hanya Gimik Sengketa Tenaga Kerja Lion Air: Denda Kontrak & Menunggak Pesangon Strategi Serabutan Jokowi Selamatkan Ekonomi Pariwisata PHK 2.600 Karyawan Lion Air Group: "Kita Dibuang Kayak Sampah" Marcelo Bielsa, Filosofi dan Kejeniusan Si Gila Instagram Dari Sejawat Refreshing Watermelon Sorbet to Quench Your Thirst   timesindonesia.co.id Bahas Polemik Verifikasi Faktual, Relawan Berkumpul di Posko Pemenangan Fakhrizal-Genius   covesia.com Kalah Perang di Tanah Perantauan   mojok.co Marc Marquez Kecelakaan, Mantan Pacar Pamer Pacar Baru   ngopibareng.id Dijual 8 Bulan Lalu, Unta Ini Balik ke Majikan Lama Usai Jalan 100 Km   news.rakyatku.com Inilah Juara Video Pendek New Normal   blokbojonegoro.com Berhembus Kabar Pejabat Pemkot Probolinggo Terpapar Covid-19, Dibantah GTPP   faktualnews.co Sekolah di Enam Kecamatan Kepulauan Sumenep Laksanakan KBM Tatap Muka   portalmadura.com Data Bansos Jangan Disalahgunakan untuk Kepentingan Politik   law-justice.co SKK Migas–KKKS Pamalu Beri Apresiasi ke Tenaga Medis dan Awak Media di Ambon   terasmaluku.com

Baca selengkapnya di artikel "Jejak Panjang Nan Sarunai, Kerajaan Purba di Kalimantan", https://tirto.id/cBfD.

Tauhid

Makna Tauhid

Para ulama menjelaskan bahwa ibadah kepada Allah tidak akan diterima tanpa tauhid. Apakah yang dimaksud dengan tauhid? Syaikh Muhammad At-Tamimi rahimahullah menjelaskan dalam risalah Ushul Tsalatsah, bahwa tauhid adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Hal ini menunjukkan bahwa tauhid mengandung penetapan ibadah, hanya boleh dipersembahkan kepada Allah dan wajibnya meninggalkan sesembahan selain-Nya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (QS. An-Nisaa’ : 36). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah atas setiap hamba adalah supaya mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “.. Beribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, inilah makna tauhid. Adapun beribadah kepada Allah tanpa meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, ini bukanlah tauhid. Orang-orang musyrik beribadah kepada Allah, akan tetapi mereka juga beribadah kepada selain-Nya sehingga dengan sebab itulah mereka tergolong sebagai orang musyrik. Maka bukanlah yang terpenting itu adalah seorang beribadah kepada Allah, itu saja. Akan tetapi yang terpenting ialah beribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Kalau tidak seperti itu maka dia tidak dikatakan sebagai hamba yang beribadah kepada Allah. Bahkan ia juga tidak menjadi seorang muwahhid/ahli tauhid. Orang yang melakukan sholat, puasa, dan haji tetapi dia tidak meninggalkan ibadah kepada selain Allah maka dia bukanlah muslim…” (I’anatul Mustafid, Jilid 1 hal. 38-39)

Minggu, 21 April 2013

Kopi luwak mengandung lemak babi

Benarkah Luwak White Coffee Mengandung lemak BABI


Bismillahirahmanirrahim Assalamualaikum wr wb. Artikel ini hanya copy paste untuk memperjelas berita bahwa Luwak white Coffee mengandung Lemak Babi.Berikut gambar saya foto langsung dari bungkus kopi Luwak yang beredar dipasaran.

“Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan; karena sesungguhnya syaithan adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah:168) Haramnya suatu makanan atau suatu rezeki itu bisa disebabkan oleh karena dzatnya memang hukumnya haram spt babi, ada juga yg haramnya itu disebabkan oleh cara pengolahannya atau pun cara mendapatkannya yg memang haram, seperti menyembelih hewan tanpa mengucapkan bismillahirrahmanirrahim (disebutkan nama Allah swt) atau pun memperolehnya dgn cara menipu. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Albaqarah : 173) Babi adalah hewan yg sangat jelas haram nya, segala sesuatu darinya, baik ketika hewan itu hidup maupun sudah mati, hukumnya adalah haram. Kenapa islam begitu concern di dalam masalah makanan yg kita makan, ada beberapa alasan mengenai itu, pertama, makanan yg diharamkan biasanya mengandung banyak mudharat bagi tubuh kita, kedua, makanan yg masuk ke dalam perut kita tidak saja berpengaruh secara fisik melainkan juga akan mempengaruhi perilaku,ketiga, makanan haram akan berpengaruh kepada ruh ibadah kita, oleh karena itu orang yg sering memakan makanan haram hatinya gelap dan akan lebih mudah tergoda syetan. Keempat, manusia yg memakan harta atau makanan haram ibadahnya tidak akan diterima oleh Allah swt. Di tahun 2010 lalu, ane mendapat email dari seorang teman tentang kulit babi yg dijadikan sepatu, dan sepatu itu sudah beredar luas di masyarakat. Menerima berita ini, kemudian ane sebarkan kepada teman-teman saya di kantor. Terdapat perdebatan di antara teman-teman kantor, ada yg bilang jelas sepatu itu hukumnya haram tetapi ada juga yg menyebutnya itu halal karena kulit babinya sudah di samak. Akhirnya ane bilang bahwa hukum setiap bangkai itu haram meskipun hukum asalnya hewan itu adalah halal, misalnya kulit hewan, kulitnya yg merupakan bagian dari bangkai hewan tersebut adalah haram, tetapi ada cara yg diajarkan Nabi Mulia saw agar kulit bangkai hewan itu bisa dimanfaatkan yaitu dgn cara di samak, selama hukum asal hewan itu adalah halal. dikecualikan adalah kulit babi, karena hukum asal babi itu adalah haram maka kulitnya tidak bisa di “halalkan” dgn cara di samak.Walahualam. Ane ada tips untuk kita dapat melatih kepekaan bathin mengenai makanan haram atau halal. Di zaman sekarang ini terkadang kita sering merasa bingung untuk memilih makanan halal, karena hampir di seluruh lapisan pedagang,baik yg kecil sampai dgn yg besar, tidak memperdulikan lagi halal atau haram produk yg dijual, yg penting dpt untung besar. Tips nya begini, setiap kita mau memakan sesuatu cobalah berkomunikasi dgn Allah swt dlm hati, mohonlah petunjuk Nya apakah makanan yg akan kita makan ini halal atau haram, begitupun ketika akan memilih/membeli makanan di restauran. Insyaallah, akan ada petunjuk yg di dapat dan tentu saja harus ada keberanian untuk meninggalkan makanan itu (jgn memakannya). Ini ane lakukan setiap ane mau makan, walaupun itu olahan orang rumah (istri). Semakin sering dilatih maka semakin peka pula bathin kita. Berikut ini ane sampaikan mengenai kode makanan (positif mengandung lemak babi) yg terdapat di dalam produk-produk makanan, terutama yg berasal dari perusahaan multinasional ( ane copas dari pcboxsearch.com). Semoga mampu menggugah kita untuk lebih berhati-hati dlm memilih produk makanan bagi keluarga kita. Assalamu’alaikum Oleh Dr.M. Anjad Khan Salah seorang rekan saya bernama Shaikh Sahib, bekerja sebagai pegawai di Badan Pengawasan Obat & Makanan (POM) di Pegal, Perancis. Tugasnya,mencatat semua merk barang, makanan & obat-obatan Produk apapun yang akan disajikan suatu perusahaan ke pasaran,bahan-bahan produk tesebut harus terlebih dulu mendapat ijin dari BPOM Prancis dan Shaikh Sahib bekerja di bagian QC. Tak heran jika ia mengetahui berbagai macam bahan makanan yang dipasarkan. Banyak dari bahan-bahan tersebut dituliskan dengan istilah ilmiah, namun ada juga beberapa yang dituliskan dalam bentuk matematis seperti E-904, E-141. Awalnya, saat Shaikh Sahib menemukan bentuk matematis, dia penasaran lalu menanyakan kode matematis tersebut kepada orang Prancis yang berwenang dalam bidang itu. Orang Prancis menjawab, Kerjakan saja tugasmu, dan jangan banyak tanya …! Jawaban itu, semakin menimbulkan kecurigaan Sahib, lalu ia pun mulai mencari tahu kode matematis dalam dokumen yang ada. Ternyata, apa yang dia temukan cukup mengagetkan kaum muslimin dunia. Hampir di seluruh negara bagian barat, termasuk Eropa pilihan utama untuk daging adalah daging babi. Peternakan babi sangat banyak terdapat di negara- negara tersebut. Di Perancis sendiri jumlah peternakan babi mencapai lebih dari 42.000 unit. Jumlah kandungan lemak dalam tubuh babi sangat tinggi dibandingkan dengan hewan lainnya. Namun, orang Eropa & Amerika berusaha menghindari lemak-lemak itu. Yang menjadi pertanyaan dikemanakan lemak-lemak babi tersebut ? Babi-babi dipotong di rumah jagal yang diawasi BPOM, tapi yang bikin pusing POM adalah membuang lemak yang sudah dipisahkan dari daging babi. Dahulu sekitar 60 tahun lalu, lemak-lemak babi itu dibakar. Kini mereka pun berpikir untuk memanfaatkan lemak-lemak tersebut.. Sebagai awal ujicobanya, mereka membuat sabun dengan bahan lemak babi, dan ternyata berhasil. Lemak-lemak itu diproses secara kimiawi, dikemas rapi dan dipasarkan. Negara di Eropa memberlakukan aturan yang mewajibkan bahan setiap produk makanan, obat-obatan harus dicantumkan pada kemasan. Karena itu, bahan dari lemak babi dicantumkan dengan nama Pig Fat (lemak babi) pada kemasan produknya. Agar mudah dipasarkan, penulisan lemak babi dalam kemasan diganti dengan lemak hewan. Ketika produsen ditanya pihak berwenang dari negara Islam,maka dijawab lemak tersebut adalah lemak sapi & domba. Meskipun begitu lemak-lemak itu haram bagi muslim, karena penyembelihannya tidak sesuai syariat Islam.Label baru itu dilarang keras masuk negara Islam, akibatnya produsen menghadapi masalah keuangan sangat serius, karena 75% penghasilan mereka diperoleh dengan menjual produk ke negara Islam, mengingat laba yang dicapai bisa mencapai miliaran dollar. Akhirnya, mereka membuat kodifikasi bahasa yang hanya dimengerti BPOM,sementara orang lain tak ada yang tahu. Kode diawali dengan E ? CODES,E-INGREDIENTS, ini terdapat dalam produk perusahaan mutinasional, antara lain : pasta gigi, pemen karet, cokelat, gula2, biskuit, makanan kaleng, buah2an kaleng, dan beberapa multivitamin serta masih banyak lagi jenis makanan & obat2an lainnya. Karena itu, saya mohon kepada sesama muslim dimana pun, untuk memeriksa secara seksama bahan2 produk yang akan kita konsumsi dan mencocokannya dengan daftar kode E-CODES, berikut ini karena produk dengan kode-kode di bawah ini, positif mengandung lemak babi : E100, E110, E120, E-140, E141, E153, E210, E213, E214, E216, E234, E252,E270, E280, E325, E326, E327, E337, E422, E430, E431, E432, E433, E434, E435, E436, E440, E470, E471, E472, E473, E474, E475, E476, E477, E478, E481, E482,E483, E491, E492, E493, E494, E495, E542, E570, E572, E631, E635, E904.

Adalah tanggungjawab kita bersama untuk mengikuti syari’at Islam dan juga memberitahukan informasi ini kepada sesama muslim lainnya. Semoga manfaat, M. Anjad Khan Medical Research Institute United States ************ **** Kalo mo hang out di Starbucks or Coffebean, pikir2 ulang deh … karena, ternyata semua minuman mengandung elmusifier yang berasal dari babi. Kalo membeli makanan kita juga gampang mengetahui halal or haram, caranya dg melihat ada tidaknya kode E ? trus tiga digit angka dibelakangnya,dan itu artinya bahan2 berasal dari lemak babi… ************ **** Dear all … Jika memang emulsifier yang dipake starbuck adalah kode E471 (tidak ada embel2 lain, misal : lecithin de sojaatau soy lecithin), maka saya yakni bahwa “origin”nya adalah pork or varken (babi) Sebenarnya tak hanya E471 tapi juga E472, para keluarga muslim Groningen the Netherlands & ikatan kel muslim Eropa memperingatkan kami utk mengecek content / ingredient emulsifier ini pd setiap produk makanan yg akan dibeli. Kami pun sempat kaget, karena emulsifier juga digunakan pada roti tawar. Karena itu, kami sarankan kpd kel muslim utk pilih roti tawar dg istilah biological bread (non-chemical additive), tentu saja resikonya harga lebih mahal (1/2 blok roti tawar jenis ini hampir 3 X harga roti tawar dg emulsifier), yang pentingkan halal. ************ ********* ******* FYI …. E471 biasa dikenal dg sebutan lecithin è originnya merupakan ekstrak dari tulang babi. E472 (saya tak ingat nama dagangnya) è originnya adalah ekstrak tulang babi.Kedua additive ini merupakan senyawa turunan dr asam lemak (fatty acid). Biasanya kedua additive ini sangat sering ditemukan pada produk2 berikut : Produk makanan mengandung cokelat è roti, ice cream, biskuit, dll Produk makanan yg perlu elmusifier è coklat bar, ice cream, or bulk,coffee cream, marshmallo, jelly, dsb. Demikian sekilas info, semoga manfaat Wallahu’alam bi shawab

Semoga Allah swt membimbing kita untuk dapat menjauhi sesuatu yg haram, Waalaikumsalam wr wb. sumber : mengukirlangkah.wordpress.com