Senin, 20 Juli 2020

SEJARAH DATU KARTAMINA

KISAH DATU KARTAMINA

Pada abad ke-14 di Kecamatan Kalua, Kabupaten Tabalong hidup seorang Datu yang bernama Kartamina. Menurut sahibul hikayat beliau berasal dari keturunan Raja Gagalang Kelua. Beliau mempunyai watak pemberani dan agak liar. Kebiasaan beliau adalah suka merendam kaki ke air.
Datu Kartamina mempunyak kesaktian bisa menciptakan buaya dengan merubah batang korek api menjadi buaya. Korek api itu beliau ambil sebatang dan diletakkan di telapak tangan kanan sambil mulut komat-kamit membaca mantra :
Oh, Gusti di alam hening
Hamba bermohon dengan bening
Ubahlah bilah ini menjadi buaya kuning
Bernyawa
Berenang-renang
Menjaga keamanan
Selanjutnya beliau pejamkan mata beberapa lama sementara mulut terus berkomat-kamit, maka batang korek api itupun berubah menjadi buaya, mula-mula kecil seperti cecak kemudian akan menjadi besar apabila dimasukan ke dalam sungai
Selain itu Datu Kartamina bisa mengubah diri menjadi buaya kuning. Kalau sudah menjadi buaya, beliau berdiam didasar sungai dan sesekali timbul ke permukaan sungai. Kalau buaya itu timbul di permukaan sungai orang-orang yang melihatnya akan merasa ketakutan karena bentuknya tidak seperti buaya kebanyakan, bentuk buaya kuning ini besar seperti pohon aren (enau) sangat menyeramkan. Jika beliau ingin kembali menjadi manusia, kelihatanlah air sungai beriak-beriak dan berbuih tebal, kemudian muncul buaya kuning dipermukaan sungai dan terus naik ke darat kemudian buaya kuning itu lambat laun berubah kembali menjadi manusia seperti sedia kala.
Datu Kartamina bersahabat dengan Raja dari Kerajaan Negara Dipa, Amuntai. Karena saking akrabnya mereka sering bertemu dan bercengkrama, terkadang Datu Kartamina datang ke Amuntai untuk bertemu dan terkadang Raja Negara Dipa yang datang ke Kalua.
Suatu hari sang raja datang berkunjung ke Kelua untuk melepas rindu pada sahabatnya Datu Kartamina karena lebih kurang dua bulan tidak bertemu, setelah tiba dirumah Datu Kartamina, sang raja mengetuk pintu rumahnya, namun stelah diketuk beberapa kali tetap tidak ada jawaban maka sang raja bertanya kepada tetangga disebelah rumah Datu Kartamina. Oleh tetangga di sebelah rumah beliau berkata bahwa tadi beliau sedang berada di sungai.
Sang Raja berjalan menuju ke sungai sebagaimana yang telah dikatakan oleh tetangga Datu Kartamina namun tidak menemukannya. Lalu sang raja berteriak-teriak memanggil sahabatnya tersebut dari pinggir sungai. “Kartamina …! Kartamina … ! dimana kau ? aku sahabatmu ingin bertemu” kata sang raja.
Setelah beberapa kali berteriak memanggil, tak lama kemudian air disungai dihadapan sang raja menjadi beriak-riak dan berbuih tebal, kemudian muncullah buaya kuning yang menyeramkan sebesar pohon enau. Melihat pemandangan yang ada di hadapannya sang raja terkejut dan takut yang luar biasa.
Sebelumnya Datu Kartamina tidak bercerita kepada sahabatnya bahwa beliau pandai menjelma menjadi Buaya Kuning, belum lagi hilang rasa terkejut dan rasa takut, sang raja dikejutkan lagi dengan terdengarnya suara dari buaya terbut yang menyebut namanya.
“Jangan takut sahabatku, akulah Kartamina yang kau cari” kata buaya itu. Setelah naik ke darat berubahlah buaya kuning itu menjadi Datu Kartamina yang asli. Sejak kejadian itu sang raja semakin senang bersahabat dan bergaul dengan Datu Kartamina sang raja pun sangat menghormati Datu Kartamina

Kenapa di Kalua disambat Padang Buaya
           Menurut kepercayaan orang bahari dan sampai wahini pun bahwa di kalua ada kerajaan besar para buhaya mahluk halus yang dipimpin oleh Raja Datu Abi atau Raju Datu Banyu yang ada dialam sana alam sebelah kita, yang kada kawa kita lihat dengan mata telanjang biasa, mungkin hanya orang hawas yang memiliki ilmu gaib haja nang kawa malihat dan mengetahuinya keberadaannya, memang sebagian  orang di kalua datu nini bahari bagaduhan buhaya jadi-jadian, tapi bukan berarti sabarataan orang dikalua nang bagaduhan nya. Menurut dadangaran kisah, apabila sang ampunnya ada acara besar atau hajatan besar seperti kawinan dll, maka buaya tadi harus di barimakani (diberi sesajen) dengan melabuh saurang kasungai, yang penulis tahu salah satu sesajennya hintalo dan lakatan masak, misalnya kada ingat mambarimakani, maka ujar orang gaduhan buaya ngintu tadi bisa mamingit anak cucu yang manggaduhnya.
           Sedikit kisah penulis ceritakan waktu penulis masih halus dahulu sekitar tahun 1990an. waktu itu ada pengantinan di sebuah kampung kecil yang terletak di kota Kelua. pada waktu malam acara pengantenan nya (malam minggu) ,awalnya acara persiapan pengantenannya berjalan lancar aja. tidak beberapa lama kemudian suasana menjadi ribut, gaduh dan orang banyak bukahan kaluaran rumah dari rumah pangantin bibini nya, penulis pun jadi  panasaran ae kanapa maka orang bukahan kaluar, ngaran kakanakan dahulu, tingkat panasarannya masih tinggi, lalu bawani masuki kadalam rumah pangantin babiniannya, tarnyata pangantin babiniannya kasurupan buhaya, pangantinnya tadi bakakat dilantai nang kaya buhaya tupang lagi dah. Limbah malihat ngintu kadanya takutan malah handak manjanaki pangantinnya kasurupan, jaka kada orang orang tuha disitu manyariki  manyuruh kaluar, kada kaluar tupang balantak disitu malihat. telusur demi telusur ternyata pihak nang kaluarga yang bepangantinan tdi ada bagaduhan buhaya halus ngintu, dan mungkin kada ingat membari makani. kada tahu pasti jua pang kanapa maka kajadian ngintu sampai bisa terjadi.
           Manurut kisah apabila sudah begaduhan maka akan diturunkan tarus manarus manggaduhnya ka anak lalakian selanjutnya turun temurun. Jadi ngintu tupang paninggalan orang Kelua bahari, nang sampai wahini masih ada keberadaannya di tengah masyarakat Kelua, dan nang maulah kalua manjadi disambat orang lawan banua buhaya.Keberadaan alam sebelah kada kawa dipungkiri adanya, dan kita wajib mempercayainya, karena itu sudah ditulis dalam Kitab Suci Al-Qur'an bahwa Tuhan menciptakan mahluknya dalam bermacam-macam jenis dan golongan, sekarang tinggal kita haja menyikapinya secara bijak,,,,

Kerajaan Nan Sarunai

Sejarah Kerajaan Jejak Panjang Nan Sarunai, Kerajaan Purba di Kalimantan Reporter: Iswara N Raditya 09 Januari 2018 Kerajaan Nan Sarunai di Kalimantan Selatan disebut-sebut sudah berdiri sejak zaman prasejarah dan bertahan selama ribuan tahun sebelum ditaklukkan Majapahit. tirto.id - Di bumi Borneo, Kerajaan Kutai Martadipura muncul pada abad ke-4 Masehi dan selama ini diyakini sebagai kerajaan tertua di Nusantara. Namun, jauh sebelumnya, di belahan lain Pulau Kalimantan, ada kerajaan yang ternyata jauh lebih tua. Namanya Kerajaan Nan Sarunai yang diperkirakan sudah berdiri sedari zaman purba alias prasejarah. Nan Sarunai didirikan orang-orang Dayak Maanyan, salah satu sub suku Dayak tertua di Nusantara, khususnya di Kalimantan bagian tengah dan selatan. Apakah Nan Sarunai sudah layak disebut kerajaan atau belum memang masih menjadi perdebatan. Namun, yang jelas, pemerintahan di Nan Sarunai berlangsung sangat lama. Eksistensi Kerajaan Nan Sarunai baru berakhir setelah datang pasukan Majapahit dari Jawa pada pertengahan abad ke-14 M. Nan Sarunai diruntuhkan, orang-orang Dayak Maanyan tercerai-berai. Namun, nantinya kerajaan ini menjadi embrio terbentuknya entitas masyarakat Kalimantan Selatan, cikal-bakal Kesultanan Banjar. Melacak Nan Sarunai Nan Sarunai diyakini berada di Amuntai, daerah yang terletak di pertemuan Sungai Negara, Sungai Tabalong, dan Sungai Balangan yang bemuara di Laut Jawa. Daerah itu berjarak sekira 190 kilometer dari Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan sekarang. Salah satu jejak arkeologis yang digunakan untuk melacak keberadaan Nan Sarunai adalah ditemukannya bangunan candi kuno di Amuntai. Candi ini dikenal dengan nama Candi Agung, yang dipercaya menjadi salah satu simbol eksisnya peradaban orang-orang Dayak Maanyan di masa silam. Baca juga: Ali Anyang, Putra Dayak Penegak NKRI Penelitian Vida Pervaya Rusianti Kusmartono dan Harry Widianto berjudul “Ekskavasi Situs Candi Agung Kabupaten North Upper Coarse, South Kalimantan” yang dimuat dalam jurnal Berita Penelitan Arkeologi edisi Februari 1998 menyebutkan, pengujian terhadap candi tersebut telah dilakukan pada 1996. Hasilnya mengejutkan. Pengujian terhadap sampel arang candi yang ditemukan di Amuntai itu menghasilkan kisaran angka tahun antara 242 hingga 226 Sebelum Masehi (hlm. 19-20). Apabila benar demikian, maka Kerajaan Nan Sarunai jauh lebih tua dari Kerajaan Kutai Martadipura yang berdiri pada abad ke-4 Masehi. Dalam perkembangannya, Nan Sarunai dikenal pula dengan beberapa nama lain, seperti Kuripan, Tabalong, hingga Tanjungpuri. Khusus Tanjungpuri, ada perbedaan pendapat di kalangan peneliti bahwa nama ini bukanlah kerajaan yang sama dengan Nan Sarunai. Menurut Suriansyah Ideham dkk., dalam Urang Banjar dan Kebudayaannya (2007), Tanjungpuri diyakini didirikan orang-orang Melayu Sumatera yang merupakan pelarian dari Kerajaan Sriwijaya (hlm. 17). Tanjungpuri dan Nan Sarunai diyakini dua entitas berbeda, tapi pernah berada dalam lingkup ruang dan waktu yang berdekatan. Keduanya sama-sama menempatkan pusat pemerintahannya di tepi anak Sungai Barito, termasuk Sungai Tabalong. Baca juga: Melayu, Islam, dan Politisasi Pribumi ala Kolonial Kedatangan orang-orang Melayu dari Sumatera ke Borneo itu diperkirakan terjadi pada awal abad ke-11 M, menjelang keruntuhan Kerajaan Sriwijaya. Sebagian pelarian itu lalu mendirikan komunitas yang kemudian berkembang menjadi suatu pemerintahan serta hidup berdampingan dengan orang-orang Dayak Maanyan yang bernaung di bawah Kerajaan Nan Sarunai. Alfani Daud dalam Islam dan Masyarakat Banjar: Deskripsi dan Analisis Kebudayaan Banjar (1997) mendukung kemungkinan tersebut. Menurutnya, penduduk sebagian wilayah Kalimantan Selatan berintikan orang-orang asal Sumatera, tepatnya Palembang, yang membangun tanah baru di kawasan ini dan kemudian bercampur dengan orang-orang Dayak Maanyan (hlm. 44). Leluhur Kalimantan Selatan Salah satu rujukan lain untuk menelisik eksistensi Kerajaan Nan Sarunai adalah Hikayat Banjar. Jejak peradaban lama di Nusantara memang kerap dilacak melalui historiografi tradisional, seperti hikayat atau babad. Historiografi tradisional, menurut Sartono Kartodirdjo dalam Historiografi Tradisional, Model, Fungsi, dan Strukturnya (1993), punya ciri-ciri menonjol dan saling berkaitan, yaitu etnosentrisme, rajasentrisme, dan antroposentrisme (hlm. 7). Johannes Jacobus Ras dalam Hikayat Bandjar: A Study in Malay Historiography (1968) membagi Hikayat Banjar dalam dua ragam, yakni versi Kerajaan Negara Dipa yang beragama Hindu dan versi yang disusun pada era Kesultanan Banjar yang telah memeluk Islam (hlm. 238). Nan Sarunai adalah pemula dari dua kerajaan yang kemudian membentuk entitas orang-orang Kalimantan Selatan itu. Hanya saja, Hikayat Banjar, yang ditulis sepanjang 4.787 baris atau 120 halaman, tidak terlalu banyak mengulik tentang Kerajaan Nan Sarunai. Pembahasan terutama pada masa menjelang keruntuhannya. Baca juga: Kerajaan Kristen Pertama di Nusantara, Larantuka Bab terkait Nan Sarunai dalam Hikayat Banjar menyerupai tradisi lisan, yakni nyanyian (wadian) yang ditransmisikan secara turun temurun. Dalam Struktur Birokrasi dan Sirkulasi Elite di Kerajaan Banjar pada Abad XIX (1994), M.Z. Arifin Anis menegaskan, Tradisi lisan Dayak Maanyan ini membawa kisah jika mereka sudah memiliki “negara suku” bernama Nan Sarunai Boleh jadi istilah “negara suku” lebih tepat untuk menyebut tata pemerintahan di Nan Sarunai daripada istilah "kerajaan", karena keberadaan peradaban orang-orang Dayak Maanyan ini terkesan “tidak diakui” sebagai kerajaan tertua di Nusantara. Bangkit dan Runtuhnya Nan Sarunai Alfani Daud (1997) memperkirakan bahwa terbentuknya pemerintahan Nan Sarunai pada masa prasejarah bermula dari bergabungnya beberapa komunitas adat Dayak Maanyan yang dipersatukan dalam suatu pusat kekuasaan yang lebih luas (hlm. 2). Hal ini didukung oleh Suriansyah Ideham dkk., (2003) yang menyebutkan bahwa ketika penataan organisasi dalam pemerintahan gabungan itu bisa dijalankan—meskipun masih sangat sederhana—terbentuklah sebuah negara suku yang dikenal sebagai Kerajaan Nan Sarunai. Ditilik dari waktunya, pengelolaan “negara” di Nan Sarunai pada masa awal masih sangat sederhana, sehingga struktur pemerintahnya pun agak sulit ditemukan. Kekuasaan tertinggi sebagai kepala suku maupun kepala pemerintahan berada di tangan seorang “raja” yang memiliki kewenangan untuk mewariskan kekuasaannya (hlm. 16-17). Baca juga: Salakanagara, Kerajaan Sunda Tertua Kendati begitu, eksistensi Nan Sarunai sebagai “negara suku” atau “kerajaan tradisional” mampu bertahan hingga ribuan tahun. Nan Sarunai dianggap sudah tidak lagi menganut konsep pemerintahan “primitif” pada awal abad ke-12 M saat dipimpin raja bernama Raden Japutra Layar yang bertakhta sejak 1309. Sepeninggal Raden Japutra Layar, roda pemerintahan di Kerajaan Nan Sarunai secara berturut-turut dilanjutkan oleh Raden Neno (1329-1349) kemudian Raden Anyan (1349-1358). Raden Anyan yang menyandang gelar Datu Tatuyan Wulau Miharaja Papangkat Amas disebut-sebut sebagai raja terakhir Nan Sarunai. Keruntuhan Kerajaan Nan Sarunai mulai terjadi pada masa-masa akhir pemerintahan Raden Anyan. Riset Sutopo Urip Bae yang dirujuk Abdul Rachman Patji dalam Etnisitas & Pandangan Hidup Komunitas Sukubangsa di Indonesia: Bunga Rampai Kedua Studi Etnisitas di Sulawesi Tengah dan Kalimantan Selatan (2010) menyebut bahwa kerajaan ini pernah diserang Majapahit pada 1358 (hlm. 58). Baca juga: Kejamnya Sultan Samudera Pasai dan Serbuan Majapahit Atas perintah Hayam Wuruk, pasukan Majapahit pimpinan Empu Jatmika menyerang Nan Sarunai hingga takluk. Oleh para seniman lokal, tragedi runtuhnya Nan Sarunai ini diungkapkan dalam puisi ratapan atau wadian dalam bahasa Maanyan yang disebut peristiwa “Usak Jawa” atau “Penyerangan oleh Kerajaan Jawa” (Fridolin Ukur, Tanya Jawab Tentang Suku Dayak, 1977: 46). Kemudian, Empu Jatmika membangun kerajaan baru bernama Negara Dipa yang bernaung di bawah kekuasaan Majapahit dan menganut agama Hindu. Nantinya, Negara Dipa pun menuai keruntuhan dan pada akhirnya, sejak 1520, digantikan Kesultanan Banjar yang sudah memeluk Islam. Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya (tirto.id - isw/ivn) Reporter: Iswara N Raditya Penulis: Iswara N Raditya Editor: Ivan Aulia Ahsan   Subscribe for updates Peradaban Nan Sarunai merupakan cikal-bakal berdirinya Kesultanan Banjar. Berita Menarik Lainnya Serang Fotografer Jenazah Corona: Buruknya Perspektif Anji & Satgas Bobroknya Omnibus Law: Kepentingan Parpol di atas Tuntutan Rakyat Bagaimana Seorang Penyair Mengenal Sapardi dan Keranjingan Berpuisi Siasat Sop Ayam Pak Min & Gudeg Yu Djum Jogja Bertahan saat Pandemi Azwar Ditangkap karena Tembakau Gayo, Diminta Rp15 Juta agar Bebas Rencana Pembubaran 18 Lembaga ala Jokowi Jangan Hanya Gimik Sengketa Tenaga Kerja Lion Air: Denda Kontrak & Menunggak Pesangon Strategi Serabutan Jokowi Selamatkan Ekonomi Pariwisata PHK 2.600 Karyawan Lion Air Group: "Kita Dibuang Kayak Sampah" Marcelo Bielsa, Filosofi dan Kejeniusan Si Gila Instagram Dari Sejawat Refreshing Watermelon Sorbet to Quench Your Thirst   timesindonesia.co.id Bahas Polemik Verifikasi Faktual, Relawan Berkumpul di Posko Pemenangan Fakhrizal-Genius   covesia.com Kalah Perang di Tanah Perantauan   mojok.co Marc Marquez Kecelakaan, Mantan Pacar Pamer Pacar Baru   ngopibareng.id Dijual 8 Bulan Lalu, Unta Ini Balik ke Majikan Lama Usai Jalan 100 Km   news.rakyatku.com Inilah Juara Video Pendek New Normal   blokbojonegoro.com Berhembus Kabar Pejabat Pemkot Probolinggo Terpapar Covid-19, Dibantah GTPP   faktualnews.co Sekolah di Enam Kecamatan Kepulauan Sumenep Laksanakan KBM Tatap Muka   portalmadura.com Data Bansos Jangan Disalahgunakan untuk Kepentingan Politik   law-justice.co SKK Migas–KKKS Pamalu Beri Apresiasi ke Tenaga Medis dan Awak Media di Ambon   terasmaluku.com

Baca selengkapnya di artikel "Jejak Panjang Nan Sarunai, Kerajaan Purba di Kalimantan", https://tirto.id/cBfD.

Tauhid

Makna Tauhid

Para ulama menjelaskan bahwa ibadah kepada Allah tidak akan diterima tanpa tauhid. Apakah yang dimaksud dengan tauhid? Syaikh Muhammad At-Tamimi rahimahullah menjelaskan dalam risalah Ushul Tsalatsah, bahwa tauhid adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Hal ini menunjukkan bahwa tauhid mengandung penetapan ibadah, hanya boleh dipersembahkan kepada Allah dan wajibnya meninggalkan sesembahan selain-Nya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (QS. An-Nisaa’ : 36). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah atas setiap hamba adalah supaya mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “.. Beribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, inilah makna tauhid. Adapun beribadah kepada Allah tanpa meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, ini bukanlah tauhid. Orang-orang musyrik beribadah kepada Allah, akan tetapi mereka juga beribadah kepada selain-Nya sehingga dengan sebab itulah mereka tergolong sebagai orang musyrik. Maka bukanlah yang terpenting itu adalah seorang beribadah kepada Allah, itu saja. Akan tetapi yang terpenting ialah beribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Kalau tidak seperti itu maka dia tidak dikatakan sebagai hamba yang beribadah kepada Allah. Bahkan ia juga tidak menjadi seorang muwahhid/ahli tauhid. Orang yang melakukan sholat, puasa, dan haji tetapi dia tidak meninggalkan ibadah kepada selain Allah maka dia bukanlah muslim…” (I’anatul Mustafid, Jilid 1 hal. 38-39)